Ritus persiapan persembahan diawali dengan nyanyian persiapan persembahan. Sementara itu bahan persembahan, yakni roti dan anggur, diarak ke depan altar oleh wakil umat untuk diterima oleh imam atau pelayan lainnya. Bersama roti dan anggur dapat juga dibawa persembahan untuk orang miskin. Dahulu roti dan anggur disiapkan sendiri oleh umat, sementara sekarang ini lazimnya sudah disiapkan oleh gereja atau paroki. Walaupun demikian tetap tidak mengurangi maknanya sebagai persembahan rohani seluruh umat yang berhimpun. Apabila tidak diarak, bahan persembahan sudah disiapkan di meja samping atau sisi altar.

Sementara bahan persembahan diarak ke altar, imam menyiapkan piala, patena, dan perlengkapan lainnya di meja altar. Nyanyian berlangsung sekurang-kurangnya sampai bahan persembahan tertata di altar. Nyanyian persembahan tetap dilagukan walaupun tidak ada perarakan bahan persembahan.

Setelah menerima roti dan anggur, di meja altar imam sedikit mengangkat patena dengan roti di atasnya, sambil berkata dengan lembut: “Terpujilah Engkau Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima roti, yang kami persembahkan kepada-Mu, hasil bumi dan usaha manusia yang bagi kami akan menjadi roti kehidupan.”

Kemudian imam menuangkan anggur dan sedikit air ke dalam piala, sambil dalam hati mengucapkan doa: “Sebagaimana dilambangkan oleh pencampuran air dan anggur ini, semoga kami layak mengambil bagian dalam keallahan Kristus yang telah berkenan menjadi manusia seperti kami.”

Lalu imam sedikit mengangkat piala sambil berkata dengan suara lembut: “Terpujilah Engkau Tuhan, Allah semesta alam, sebab dari kemurahan-Mu kami menerima anggur, yang kami persembahkan kepada-Mu, hasil pokok anggur dan usaha manusia yang bagi kami akan menjadi minuman rohani.”

Jika nyanyian persiapan persembahan sudah selesai atau tidak ada, kedua doa ketika imam mengangkat patena dan piala diucapkannya dengan lantang, dan umat menjawab dengan “Terpujilah Allah selama-lamanya.”

Sesudah itu, sambil membungkuk khidmat imam berdoa dalam hati: “Tuhan, dengan rendah hati dan jiwa yang menyesal, kami menghadap kepada-Mu; terimalah kami dan semoga persembahan yang kami siapkan hari ini berkenan pada-Mu.”

Kemudian sambil berdiri di sisi altar, imam membasuh tangan sambil berkata: “Tuhan, basuhlah aku dari kesalahanku dan sucikanlah aku dari dosaku.”

Sesudah itu, sambil merentangkan tangan, imam berkata dengan lantang: “Berdoalah saudara-saudari supaya persembahanku dan persembahanmu berkenan pada Allah, Bapa yang mahakuasa”, yang kemudian dijawab oleh umat.

Ritus persiapan persembahan diakhiri dengan Doa Atas Persembahan yang tidak seperti doa pemimpin lainnya, tidak diawali dengan ajakan “Marilah kita berdoa.” Di masa lalu Doa Atas Persembahan diucapkan atau dinyanyikan oleh imam secara lembut, bahkan dalam hati saja sehingga tidak didengar oleh umat yang hadir. Oleh sebab itulah, maka tidak ada ajakan marilah kita berdoa. Dalam Tata Perayaan Ekaristi saat ini, tidak adanya ajakan marilah kita berdoa tetap dipertahankan, namun Doa Atas Persembahan dibawakan dengan lantang dan ditutup dengan jawaban “Amin” oleh seluruh umat.

Sumber:
1. Tata Perayaan Ekaristi, 2020
2. Pedoman Umum Misale Romawi
3. Catholic Encyclopedia

@onggo.lukito

nKatekese singkat tentang Ritus Persiapan Persembahan. Sumber: 1. Tata Perayaan Ekaristi, 2020 2. Pedoman Umum Misale Romawi 3. Catholic Encyclopedia #liturgikatolik #katekesekatolik #gerejakatolik #lagupersembahan #nyanyianpersembahan #kolekte #katekeseliturgi #rotidananggur

♬ original sound – Onggo Lukito – Onggo Lukito